Survei VS Popularitas

Oleh : M. Nurbadruddin

Perkembangan lembaga survei yang melaksanakan penelitian sosial maupun politik memberikan gambaran pada kita pada pentingnya hasil tersebut sebagai landasan kebijakan, akan tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah akankah survei yang dilaksanakan ada unsur keberpihakan dalam menampilkan angka-angka tersebut kepada salah seorang maupun institusi dan lainnya yang mengakibatkan dan membentuk opini yang menyesatkan?.

Hasil survei dapat digunakan untuk mengadakan prediksi mengenai fenomena sosial, baik tingkat popularitas presiden dan mengukur akan tanggapan masyarakat terhadap kebijakan yang telah dibuat. Survei juga menjadi penting dalam membuat kebijakan politik dikarenakan salah satu unsur informasi ada di dalamnya hingga keputusan apapun menjadi sangat diperhitungkan, dalam proses pembuatan keputusan ada dua, yaitu mufakat dan suara terbanyak. Yang terakhir inilah ada sub unsur didalamnya yaitu mayoritas dan prularitas, mayoritas disini menandakan suatu yang lebih dari setengah plus satu, dalam artian formula ini menandakan suara yang terbanyak merupakan landasan kebersamaan dan pluralitas adalah bentuk suara yang lebih banyak dalam sekumpulan komunitas dan lebih besar, hingga keduanya menjadi formula dalam membentuk kebijakan untuk kedepan. Dalam hal ini terjadilah tawar-menawar, perdebatan, dan kompromi maka membutuhkan informasi yang akurat dan dalam jumlah yang memadai akan mempengaruhi isi keputusan yang diambil, disitulah peran survei dalam memberikan informasi yang akurat kepada pembuat keputusan dan kebijakan pada partai politik maupun strategi.

Strategi yang ditempuh dalam membuat keputusan akan sangat tergantung pada keakuratan informasi yang tersedia. Ketepatan dalam mengambil keputusan, hingga mencapai sasaran yang hendak dituju. Maka memerlukan fakta, data, teori, dan kecendrungan-kecendrungan dalam masyarakat merupakan beberapa contoh wujud informasi tersebut. Guna mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat ini memerlukan usaha-usaha penelitian dan pengkajian ataupun survei hingga berbagai kemungkinan dampak positif dan negatif setiap alternatif kebijakan dapat diperkirakan sehingga atas dasar itu dapat dipilih salah satu alternatif untuk disahkan sebagai kebijakan.

Akan tetapi akankah survei ini mempengaruhi popularitas pada seseorang maupun institusi, hingga menggiring massa pada sikap tertentu?. Inilah yang menjadi pertanyaan dan polemik pengaruh survei yang publikasikan dan memberikan intrest pada kalangan tertentu, bisa ditelisik pada pilkada-pilkada yang telah dilaksanakan, seperti, pilgub Sumatera Selatan, beberapa media cetak lokal mempublikasikan polling maupun hasil survei dari lembaga-lembaga yang masing-masing mengunggulkan calon, diantaranya lembaga tersebut mempublikasikan hasilnya dengan calon yang pertama akan memenangi pilkada dan lembaga lain memberitakan akan calon yang kedua memenangi pilgub, akan tetapi hasil tersebut tidak mempengaruhi pilihan masyarakat, karena yang bekerja adalah masing-masing tim pemenang dari masing-masing kandidat dan penilaian masyarakat yang sudah rasional. Yang terjadi di Riau ada pemberitaan menyebutkan salah satu calon akan memenangi pilkada walaupun setelah di konfrontir hasil survei tersebut tidak benar, betapapun pemberitaan itu tidak benar, dibalik pemberitaan tersebut adalah bentuk klim kandidat mendapat dukungan mayoritas, dan semuanya hanyalah kegiatan untuk menggiring opini publik kepada salah satu calon dan itu semua tidak terbukti tidak terbukti.

Pembentukan popularitas bukanlah tergantung oleh survei, karena survei merupakan bentuk potret dinamika masyarakat pada saat dilaksanakannya survei itu. Dan survei dipergunakan sebagai landasan keakuratan informasi yang tersedia bukan mendongkrak popularitas seseorang maupun institusi atau partai. Pembentukan popularitas dapat berasal dari ketokohan orang yang mencalonkan karena memiliki berbagai aktifitas yang berkaitan dengan masalah-masalah masyarakat pada umumnya hingga memberikan penerimaan sikap hingga memberikan kedekatan pada masyarakat, dan kampanye baik dengan beriklan di madia massa dan lain sebagainya.

Media publik
Pembentukan opini publik membuat suatu kekuatan tersendiri yang dapat melawan, sebagaimana yang dikatan Tocqueville semakin dekat manusia kepada tingkatan bersama dari keseragaman, semakin kurang kecendrungan mereka untuk percaya begitu saja kepada manusia atau kelas tertentu. Namun begitu, mereka ternyata lebih siap untuk percaya kepada massa, dimana opini publik semakin terangkat menjadi tuan rumah, pun didalam demokrasi opini publik memiliki kekuatan yang kuat. Dia tidak menggunakan persuasi apapun untuk mengajukan keyakinan-keyakinannya, namun lewat tekanan dahsyat terhadap pikiran melebihi inteligensia setiap orang, dia sanggup memaksakan ide-idenya untuk membuat dirinya merasuk kesetiap relung manusia yang paling dalam.

Dampak yang sangat nyata pada iklan Barrack Obama sebagai presiden terpilih Amerika Serikat, dengan mengiklankan di semua lini media, dan pemanfaatan internet yang membuat interaksi dengan masyarakat langsung dan transparan. Dengan membuat opini publik sangat merasakan sentuhan pengaruh isu yang dibuat hingga sulit membendung popularitas sang presiden terpilih tersebut, strategi itu membuat simpatik disetiap kalangan masyarakat dunia dan kampanye melalui iklan politik yang dilakukan calon presiden tersebut merupakan langkah yang efektif untuk meningkatkan popularitas.

Survei yang menjadi landasan untuk kebijakan tersebut haruslah murni data fakta lapangan dan bukan merupakan sebuah rekayasa yang dimanfaatkan sebagai penggiringan opini dengan mendapatkan hasil angka-angka yang besar, akan tetapi hanya sebagai sebuah landasan informasi dan kebijakan. Dan adapun hasil survei tersebut di iklankan sebagai pengaruh publik, propaganda maupun penggiringan untuk keberpihakan merupakan moralitas dan etika dalam politik yang setiap orang-orang bisa sebagai kredonya opini publik jika tanpa harus mengujinya terlebih dahulu.

Interpretasi pengaruh psikologi politik ini sebagai bentuk liberalis media dalam membentuk opini politik di negara konstitusional semacam negara kita ini yang bersifat reaksioner : dia bereaksi terhadap kekuasaan ide dari penentu diri publik yang berdebat secara kritis, mengenai publik perwakilan esoteris ini, publik yang mengizinkan dirinya diwakili itu harus puas dengan kondisi bahwa ”penilaian mereka secara umum harus diuji lebih dahulu oleh karakter dan talenta pribadi yang mereka tunjuk sebagai wakil ketimbang oleh persoalan-persoalan itu sendiri”. Hingga terbentuk penilan di setiap masyarakat dari titik yang terkecil yaitu individu masyarakat hingga sekelompok yang besar maupun sikap kolektif.

Dari semuanya ini, maka, survei bukanlah media kampanye maupun alat yang dapat meningkatkan popularitas akan tetapi merupakan alat untuk mendeteksi polpularitas, elektibilitas, possiblety atau kemungkinan yang terjadi dari hasil dan analisa maupun kecendrungan-kecendrungan masyarakat akan berbagai masalah sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan budaya dan lain sebagainya. Pengaturan akan survei akan membuat terbatasnya pengembangan pengambilan kebijakan dan metode pengembangan ilmiah maupun introspeksi atas kebijakan yang telah dijalankan.

Iklan

2 thoughts on “Survei VS Popularitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s