QUICK COUNT DAN DEMOKRASI

Oleh : M. Nurbadruddin*

Siapa yang menyangka perkembangan ilmu pengetahuan secepat ini, dan siapa yang menyangka hal yang dianggap akan menghabiskan waktu dapat disederhanakan, dengan mengumpulkan relawan sekitar 400 orang, bahkan bisa lebih atau kurang, akan tergantung dengan jumlah sample tempat pemugutan suara (TPS) yang diambil, akan bisa memprediksi hasil persentase pemilihan umum. Jawabannya adalah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sistem demokrasi, hal tersebut memberikan peluang yang sangat besar kepada sistem informasi, era demokrasi seperti ini membutuhkan keterbukaan informasi yang sangat luas agar memberikan peluang kepada setiap masyarakat untuk mengakses setiap event publik terutama pemilihan kepala daerah atau pilkada maupun pimilihan presiden, hingga dalam hitungan per menit dan jam, proses itu dapat diketahui secara detailnya.

Sejarah penghitungan cepat terdapat pertama kali pada pemilu di Philipina pada tahun 1986, yang dilakukan oleh National Movement for Free Elections (NAMFREL) dengan menggunakan parallel vote tabulation (PVT), yaitu dengan melakukan penghitungan dan pentabulasian secara parallel dari hasil penghitungan suara, pelaksanaan ini dilaksanakan secara komprehensif dan dapat dikatakan sebagai penghitungan tandingan yang dilakukan oleh institusi resmi pemilihan umum pemerintah Philipina. Sedangkan di Indonesia yaitu pada tahun 2004 pertama kali dilaksanakan quick count oleh LP3ES, sebagai lembaga independen yang melaksanakan perhitungan cepat dan hasilnya dapat memverifikasi hasil penghitungan manual KPU. Dan berbagai lembaga kemudian melaksanakan quick count seperti Lembaga Survei Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, PusKapol UI, Puskaptis, Litbang Kompas dan lain-lain. Yang hingga saat ini sering melaksanakan quick count di berbagai pemilihan umum kepala daerah baik gubernur, bupati dan walikota.

Kehawatiran akan terjadinya polemik disetiap penyelenggaan quick count tidak terbukti, pada tanggal 23 Juli 2008 kemaren, pelaksanaan pilgub Jawa Timur, dan hingga detik ini tidak terjadi adanya suatu protes atas penolakan hasil quick count yang dilaksanakan oleh beberapa lembaga independent, malah pelaksanaan tersebut membantu KPUD dapat mempersiapkan lebih awal untuk pelaksanaan putaran kedua. Sikap kehawatiran terhadap quick count sebenarnya tidak beralasan dengan tegas, malah ini akan memperkungkung lembaga yang membantu atas verifikasi KPU, dan menghambat perkembangan demokrasi yang sedang berjalan di negeri kita ini. Dan dalam waktu yang dekat ini akan dilaksanakan pemilihan Propinsi Lampung pada tanggal tiga september dan Sulawesi Selatan pada keesokan harinya tanggal empat September, maka bisa dilihat siapakah yang bakal menjadi gubernur mendatang dan akankah ada putaran kedua seperti yang terjadi pada pilgub Jawa Timur.

Perhitungan cepat atau quick count, adalah sumbangsi besar terhadap demokrasi, pertama, partisipasi atas demokrasi, ini merupakan bentuk dari civic engagement yaitu keterlibatan masyarakat dalam kegiatan demokrasi, hingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka, percaya dan toleran antar sesama, dengan mengadakan perhitungan cepat berarti membangun aspek partisipasi politik demokratis. Kedua, merupakan sumbangsi perkembangan teknologi atas demokrasi, yang membuat sesuatu mungkin dilakukan dengan automatis dan membuat perubahan dimensi politik dan sosial. Hingga Macpherson mengatakan: “the technological revolution could provide the means of realizing the democratic concept of the human essence”, teknologi akan menyingkat waktu dan tenaga hingga mempengaruhi sistem yang dibuat oleh manusia itu sendiri, maka, perhitungan cepat merupakan aplikasi dari perkembangan ilmu dan teknologi telekomunikasi yang memungkinkan orang memberikan informasi dengan cepat dan singkat. Ketiga, sikologi politik, timbulnya resistensi dan ketegangan akan nuansa politik yang menunggu hasil pemenang dalam pemilihan, situasi yang memanas karena disetiap calon mempunyai simpatisan fanatik yang rela melakukan tindakan yang diluar prediksi membuat situasi tak menentu karena emosi, sikap, pikiran yang terfokus pada situasi politik, dan ketidak menentuan maupun ketegangan itu akan redam ketika mengetahui prediksi versi hasil penghitungan cepat dari beberapa lembaga independen yang melaksankannya. Empat, Selain hal itu, dapat mengetahui seberapa besar partisi masyarakat terhadap pemilu dengan cepat pada hari itu juga, merupakan sumbangsi besar atas berjalannya demokrasi dengan pemilihan secara langsung pada kompetisi pemilihan kepala daerah maupun presiden. Dimensi partisipati memberikan penilaian berjalannya demokrasi yang telah dilaksanakan dengan berbagai sistem dianut, membuka peluang sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dangan aturan main dan penegakan hukum akan mematangkan sistem demokrasi yang di berjalan di negara ini.

Netralitas

Dengan memasuki dunia industrialisasi ini, membuat setiap lembaga survei melakukan persaingan dengan berbagai inovasi untuk menciptakan sistem dan motode yang lebih unggul maupun lebih akurat di setiap hasil perhitungan cepatnya. Karena inilah kunci dari kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pelaksana tersebut, eksistensi independen akan teruji di kalangan penilaian masyarakat pada setiap hasil yang di publikasikan oleh lembaga survei. Dan persaingan ini juga membuka peluang-peluang yang tidak sehat, jika lembaga pelaksana melakukan kepentingan yang memihak kepada calon maupun siapapun kliennya, hingga data yang seharusnya fakta lapangan dapat dirubah sesuai dengan kepentingan sang pemesan data. Maka, kenetralan lembaga yang melaksanakan perhitungan cepat harus di kontrol, agar hasil yang di publikasikan tidak bias kepada colon manapun, untuk menghindari terjadi kesalah pahaman persepsi atas interpretasi hasil yang di publikasi oleh lembaga yang melaksanakan perhitungan cepat.

Pada perkembangan yang akan datang dan seiring berkembangnya teknologi, akan membantuk perhitungan cepat tidak akan lagi dilaksanakan seperti sekarang, dan akan lebih cepat, bahkan perhitungan manual KPU secara komprehensif dapat diketahui dengan hitungan jam, jika penerapan teknologi sudah maksimal. Hal yang tidak bisa dilupakan adalah sumberdaya manusia yang siap akan penggunaan IT, Seperti yang telah ada di negara-negara maju, pemilihan sudah menggunakan mesin yang diketik langsung maupun dengan memencet tombol atau vote touch machine, setiap sentuhan pemilih dapat diketahui perolehan suara dan jumlah partisipasi masyarakat terhadap pemilihan umum secara langsung.

Potret dinamika masyarakat demokrasi yang sangat penting, bisa dilihat melalui perhitungan cepat yang seharusnya sebagai perwujudan pemilihan langsung kepala daerah maupun presiden sebagai indikator power of civic on government. Dan jika penghitungan cepat tidak diperbolehkan maka hal ini melukai semangat kontribusi maupun partisipasi berdemokrasi.

*Tim Peneliti Lembaga Survei Indonesia

Iklan

One thought on “QUICK COUNT DAN DEMOKRASI

  1. Benar lembaga seperti ini sangat membantu proses demokrasi, karena langsung dan berdasarkan hasil realisasi di lapangan. Semoga lembaga seperti ini juga “fair” sehingga tidak menimbulkan permasalahan yang berakibat sangat fatal!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s