PRESISI QUICK COUNT DAN PILKADA

Oleh : M.Nurbadruddin

Perkembangan teknologi komunikasi membuat segala menjadi lebih mudah, segalanya menjadi cepat, dan segalanya menjadi simple untuk mendapatkan informasi yang di inginkan, dan reformasi menjadi salah satu pintu terbukanya hal itu hingga hak untuk mendapatkan informasi semakin luas. Sistem yang diciptakan dalam penghitungan cepat dan menginformasikan hasilnya menjadi hal yang sangat dinanti-nanti oleh setiap masyarakat, siapa yang menjadi pemenang pada kontastasi demokrasi pada skala tertentu menjadi terasa lebih cepat dan legitimasi yang tertunda.

Quick count merupakan prediksi hasil pemilu berdasarkan fakta bukan berdasarkan opini. Oleh karena itu quick count bukanlah pendapat pemilih atas siapa yang pantas untuk dipilih dalam pemilihan sebagai pemimpin, akan tetapi data dan fakta yang ada dilapangan atau perolehan suara yang ada di tempat pemilihan suara (TPS) sebagai sample. Perhitungan cepat (quick count) menjadi marak ketika pemilihan presiden pertama kali dilaksanakan pada tahun 2004, dan pada hari itu juga, dapat diketahui siapa yang bakal menjadi presiden republik Indonesia, dengan menggunakan sample yang telah didesain secara akurat yang dapat mengetahui dalam beberapa jam secara persentase pada prediksi versi quick count, hasil tersebut dapat diperbandingkan dengan hasil perhitungan manual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan seberapa akurat perhitungan cepat tersebut. Dengan menggunakan berbagai pendekatan metode dan berapa persen margin of error dengan hasil sebenarnya, yaitu berapa selisih dari penghitungan manual yang dilaksanakan oleh KPU yang menandakan betapa ilmiah motode yang di design untuk perhitungan cepat tersebut dan dapat dipertanggung jawabkan, hingga maraknya perhitungan cepat dilaksanakan setiap pelaksanaan pemilihan gubernur hampir di setiap propinsi maupun bupati dan walikota.

Selain sebagai penghitungan cepat, quick count juga mempunyai fungsi yang tidak kalah penting di pertimbangkan, sebagai pengontrol dari penghitungan yang dilaksanakan oleh KPU itu sendiri, media kontrol ini, yang dimiliki oleh quick count atas kinerja jika terjadi suatu kecurangan dalam penghitungan manual, jika terjadi jauhnya persentase versi quick count dengan KPU maka ada kemungkinan terjadinya suatu kesalahan, baik secara metodolegis maupun perhitungan manual yang dilaksanakan oleh KPU. Metodologi statistik dalam quick count harus akurat apabila penarikan samplenya sesuai dengan sebaran populasi, hingga pelaksanaan dilapangan berdasarkan hitungan dan penarikan sample menjadi identifikasi yang akurat, dan dapat dijadikan sandaran sebagai perbandingan perhitungan manual.

Dapat dilihat dari hasil quic count DKI Jakarta, dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) melansir hasil quick count nya Foke-Prijanto 56 persen suara dan Adang-Dani 44 persen suara, Lingkaran Survei Indonesia (PT.LSI) melansir hasilnya Foke-Prijanto 58,59 persen dan Adang-Dani 41,41 persen perolehan suara, hasil perhitungan manual yang dilakukan oleh KPU Foke-Prijanto sebesar 58 persen dan Adang-Dani 42 persen, ini menandakan keakuratan penghitungan cepat dapat diartikan sebagai prediksi yang tertunda dalam penetapan perhitungan manual pada hasil pilkada. Propinsi Jawa Tengah, Lembaga Survei Indonesia (LSI) melansir hasil quick countnya Bambang –Adnan 22,98 persen, Agus-Kholik 7,31 persen, Sukawi-Sudharto 15,33 persen, Bibit-Rutri 42,40 persen dan Tamzil-Rozak 11,97 persen, sedangkan Lingkaran Survei Indonesia melansir hasil quick countnya Bambang –Adnan 22,46 persen, Agus-Kholik 6,11 persen, Sukawi-Sudharto 15,80 persen, Bibit-Rutri 44,42 persen dan Tamzil-Rozak 11,20 persen. Dan perhitungan cepat di propinsi Bali Lingkarang Survei Indonesia (PT.LSI) melansir hasilnya I Gede W- I Gusti B 18,51 persen Tjokorda-Nyoman Gede 25,09 persen dan Mangku Pastika-A Ngurah P 56,40 persen, sedangkan Lembaga Survei Indonesia melansir hasil quick countnya I Gede W- I Gusti B 19,01 persen, Tjokorda-Nyoman Gede 25,05 persen dan Mangku Pastika-A Ngurah P 54,94 persen, hasil resmi yang telah di lansir oleh KPUD, I Gede W- I Gusti B 18,25 persen, Tjokorda-Nyoman Gede 26,71 persen dan Mangku Pastika-A Ngurah P 55,4 persen, perbedaan hanya beberapa persen diantara lembaga dan selisih dari penghitungan manual oleh KPUD pun tidak jauh berbeda, selisih yang hanya 1% dapat ditoleran berdasarkan metode yang digunakan.

Dapat dilihat dari pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang baru saja dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2008 minggu kemaren, adalah pimilihan gubernur Jawa Timur yang gagal melahirkan gubernur baru. Berdasarkan hasil quick count dari beberapa lembaga survei yang telah melakukan quick count, tidak satupun calon gubernur meraih diatas 30 persen suara, ini menandakan putaran kedua bakal terjadi. Dari hasil quick count Lembaga Survei Indonesia (LSI), perolehan suara calon Ka-Ji 25,34 persen, KarSa 26,92 persen, dari hasil Lingkaran Survei Indonesia (PT.LSI), perolehan suara Ka-Ji 24,83 persen, KarSa 26,56 persen. Lembaga Survei Nasional (LSN), KaJi 25,65 persen, KarSa 29,76 persen. Pusat Kajian Pembangunan Strategis (Puskaptis) KaJi 26,16 persen dan KarSa 31,34 persen. Hanya satu lembaga dari hasil quick count yang dilaksanakannya yang menyakini, bahwanya pelaksanaan pilkada Jawa timur berlangsung hanya satu putaran, sedangkan tiga lembaga lainnya melansir hasil quick countnya menyatakan akan ada putaran kedua. Perbedaan ini memberikan penilaian akan akurasi dari perhitungan cepat yang telah dilaksanakan oelh berbagai lembaga tersebut.

Dari beberapa pelaksanaan perhitungan cepat, kenyataan ini menandakan betapa ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan hasil quick count yang dilaksanakan oleh beberapa lembaga survei, quick count dapat di verifikasi hasil resmi KPU, dan dapat mendeteksi kecenderungan akan kesalahan perhitungan dan indikasi kecurangan yang terjadi, karena quick count merupakan pengambilan data lapangan berdasarkan sample atas populasi pemilih. Dengan berbagai macam metodologi yang dipakai, baik dengan menggunakan multy state random sampling, stratified cluster random sampling maupun dengan stratified random sampling, metode ini sangat ilmiah yang telah diperhitungkan dengan ilmu statistik hingga dapat menghasilkan prediksi yang sangat akurat hingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s