Pengangguran, Mitos dan Etos Malas Bekerja

Oleh: M. Nurbadruddin

Tim Peneliti Lembaga Survei Indonesia

Rentetan-rentetan penyelesaian dan berbenah dalam mencapai suatu titik kesejahteraan ekonomi telah dilakukan oleh pemerintahan kita, akan tetapi apakah hal-hal tersebut telah menghasilkan bagi masyarakat yang sudah overload dalam tingkat lowongan pekerjaan yang telah disediakan, ini adalah pekerjaan yang menjadi tanda tanya yang paling besar oleh rakyat untuk pemerintahan sebagai tingkat penilaian atas apa yang telah dihasilkan selama mereka menjabat.

Kerja merupakan hak yang tidak bisa dicabut dari manusia, dan pelanggaran atasnya sama dengan pelanggaran atas hak hidup dan kebebasan. Karena itu, menurut Sonny Keraf hak atas bekerja adalah “milik yang paling luhur”. Tingkat pengangguran sebesar 97,3 persen dari kelulusan pendidikan setiap tahunnya, sedangkan tingkat peluang kerja hanya 40,7 persen membuat ketimpangan yang sangat mencolok di negara ini. Ketimpangan tersebut dapat dilihat dengan setiap dibukanya lapangan pekerjaan di tiap instansi dan lembaga pemerintahan atau swasta jumlah pendaftar yang membludak dari yang dibutuhkan membuat suatu kenyataan nyaris tidak dapat dibanyangkan, jumlah kelulusan tidak berbanding lurus dengan tempat penerimaan pekerjaan yang diharapkan, akibatnya tingginya standarisasi dalam penerimaan baik dalam pendidikan maupun skill ataupun standar lembaga yang akan menerima sebagai tenaga kerja membuat apa yang diharapkan hanya sebagai pengharapan dan usaha tanpa akhir. Ini mengakibatkan tingginya tingkat pengangguran yang mempunyai pendidikan tinggi dan pendidikan yang tinggi bukanlah jaminan untuk mencapai suatu tingkat kesejahteraan suatu negara, selanjutnya skill yang dibutuhkan membuat suatu kompetisi yang sangat kompetitif akan tetapi ini juga bukan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapkan, selain itu, tingkat peluang yang memang masih sangat sedikit untuk membuka lapangan pekerjaan hingga untuk merangkul para pencari pekerjaan masih kecil celah yang diharapkan. Ini merupakan diantara indikator kenapa peluang di negara ini menjadi sangat sulit didapatkan hingga membuka suatu peluang KKN yang sangat besar di setiap lembaga atau instansi pemerintahan karena peluang yang tersedia sangat sedikit dan kompetisi yang sangat kompetitif, dan apalah artinya tingginya tingkat pendidikan tanpa dibarengi dengan dengan tingkat pengangguran yang overload, bukan menghasilkan kesejahteraan akan tetapi sebaliknya, dan banyaknya orang yang berpendidikan membuat makin bertambahnya tindakan-tindakan negatif yang dilakukan oleh orang yang berpendidikan karena terjadinya hal tersebut dikarenakan tidak di imbangi kondisi ekonomi yang kondusif.

Mitos

Citra yang dibangun membuat suatu cerminan yang sangat negatif hingga timbul suatu ketidak percayaan dan antisipatik maupun pesimistis terhadap suatu usaha maupun kenyataan yang dihadapi hingga membuat suatu keyakinan yang timbul adalah sikap malas terhadap masyarakat yang belum mendapatkan suatu pekerjaan yang menghasilkan, jika dilihat dari nilai-nilai suatu untuk menilik apakah seseorang itu dikategorikan malas dalam bekerja kita bisa lihat dari pendapatnya Alatas: “tidak adanya kecintaan bekerja, tidak adanya kemauan bekerja, tidak adanya kekuatan dan semangat yang ditunjukkan dalam usaha, tidak adanya perhatian terhadap akibat dari usahanya, tidak ada perhatian pada perolehan dari usahanya dan tidak ada perhatian pada kebutuhan yang mendorong usaha tersebut”. Alasan-alasan ini dapat dijadikan indikator untuk mengkategorikan apakah seseorang tersebut dapat dikategorikan sebagai malas dalam bekerja dan apakah faktor tersebut sudah terdoktrin dalam benak kita hingga standarisasi yang menurut saya redah dalam pengkategorian. Seorang yang ingin hidupnya hold out (bertahan/axis) dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya haruslah mempunyai penghasilan demi memenuhi keperluan dan kebutuhannya, tidak adanya kecintaan, kekuatan maupun perhatian terhadap pekerjaan ini merupakan faktor yang sangat bahaya yang dapat membuat lumpuhnya semangat memajukan negara dan dapat membuat lumpuhnya semua dimensi pembangunan.

Hal-hal tersebut bisa saja tercipta ketika suatu kejenuhan akan hasil yang di dapatkan selalu monoton, stagnant dan sampai pada titik tanpa adanya harapan yang dapat membuka semangat untuk hasil yang bakal di dapatkan dan tekanan yang berlebihan maupun depresi akan usaha yang tanpa ada hasilnya, hingga predikat pemalas sebagai gelar dapatlah memalukan sebagai seorang yang putus harapan maupun negara yang bertanggung jawab atas setiap hak-hak warga negaranya terabaikan untuk mendapatkan peluang tersebut. Dimensi ini yang seharusnya di hindari dengan membentuk suatu program-program dunia wiraswasta (entrepreneurship) dan dapat membuka peluang semua orang untuk mendapatkan pekerjaan dan membentuk suatu pelatihan-pelatihan dalam menunjang skill atau kemampuan untuk menghasilkan apa yang lebih baik dan membuka bantuan-bantuan yang sebesar-besarnya untuk membuka usaha mikro masyarakat sebagai tindakan yang riil untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menengah dan kecil selain itu support yang besar oleh pemerintah dalam mengembangkan usaha mikro yang riil kepada manca negara sebagai tindakan yang di harapkan berjalan sebagai harapan yang paling besar untuk meningkatkan tatanan export dan produk yang dapat diandalkan kepada mancanegara sebagai hasil karya anak bangsa. Dari semua hal ini dapat dikatakan bahwa kerja adalah manifestasi dan kebebasan individu. Pertama, kerja adalah ungkapan pembebasan diri seseorang dari kemalasan diri seseorang. Kedua, kerja adalah ungkapan pembebasan seseorang dari ketergantungannya, dalam arti negatif, pada orang lain. Ketika seseorang melakukan pekerjaan akan menghilangkan sifat kemalasan yang ada pada diri orang tersebut dan menimbulkan sikap tanggung jawab dari apa yang dihasilkan olehnya dan tentunya menghilangkan ketergantungannya akan kebutuhan yang harus di penuhi olehnya kepada orang lain. Kata Werhane, kebebasan kongkret para pekerja yang tidak lagi bergantung pada orang lain, yang mengontrol produktivitasnya sendiri dan sejalan dengan hal tersebut akan menjadi kreatif dan inovatif. Ketika seseorang itu menghasilkan dari pekerjaannya menimbulkan sikap yang lebih keatif maupun inovatif, karena sikap tersebut akan berkembang dengan sendirinya untuk menghasilakan yang lebih dan lebih.

Etos

Semangat dan kecintan terhap pekerjaan diantara kunci untuk mensukseskan pekerjaan yang dijalani, semangat yang timbul tidak hanya berada pada awal dari pekerjaan akan tetapi sikap kontinuitas adalah lubang kunci dari semangat tersebut akan berjalan terus hingga akhir dari semuanya, kebiasaan untuk menumpuk suatu pekerjaan sudah lama dijalani oleh para pekerja-pekerja yang ada di lembaga maupun instansi, hal ini diakibatkan suatu nuansa yang dibuat yang telah dijadikan kondusifitas berjalan dengan tenang dan enjoy pada pekerjaan pada mental pekerja, hingga menghasilkan waktu lama karena terlena akan kebebasan dalam meluangkan waktu dikarenakan minimnya tingkat akan kesadaran terhadap pekerjaan yang telah dibebani olehnya. Etos yang dibentuk sudah sedemikian rupa buruknya membuat gerak yang lambat untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan baru yang seharusnya sudah dijalani beberapa pekan yang lalu.

Sikap ketidak disiplinan pekerja membuat semua dimensi berjalan lamban di ranah perkembangan negara ini, birokrasi yang terlalu panjang juga tidak menghasilkan hasil yang optimal bukannya memberikan kepada semua kesempatan untuk dapat mengurus akan tetapi justru memperlambat semua proses dengan keterlibatan dan berantakannya administrasi yang menumpuk dan tumpang tindihnya tanggung jawab memakan waktu yang lama, dan hanya segelintirlah yang maju dengan sendirinya karena ketepatan maupun semangat yang kuat untuk mencapai target yang telah dibebani sebagai motivasi yang ampuh untuk menghidari keterlambatan itu semua. Akan tetapi ini merupakan tanggung jawab kolektif yang harus ditanggung bersama sebagai mesin pertumbuhan dan perkembangan kesejahteraan bersama, sikap evaluatif adalah kontrol dari tanggung jawab pekerjaan dan nilai yang harus didapati oleh setiap subjektifitas personality sebagai individu yang produktif, nilai itu akan bertambah jika tanggung jawabnya besar dan disiplin yang dijalankan berdasarkan nilai waktu yang telah ditentukan sebagai target yang harus dicapai bukan hanya dinanti.

Kesinergian mitos dan etos dalam membuat suatu image yang lebih baik membuat suatu langkah yang positif, setiap bekerja mempunyai target yang harus dicapai dengan mempunyai disiplin yang tinggi dan rasa tanggung jawab yang besar atas pekerjaan akan membuat etos kerja yang harus diterapkan bukan hanya di kemukakan oleh motivator akan tetapi bergerak bersama dan menjalankan adalah langkah kongkret untuk menuju bangsa yang lebih makmur dalam kesejahteraan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s